AKSI GEROMBOLAN BERMOTOR
AKSI GEROMBOLAN BERMOTOR
Heboh gerombolan bermotor tak ubahnya fenomena gunung es. Pasalnya, sudah berlangsung sekian tahun akibat pembiaran dari aparat terhadap kelompok yang kegiatan rutinnya bapal liar itu. Jumlah korban pun sangat mencengankan : 60 oran orang meninggal per tahun. Benarkah omzet taruhan mencapai milyaran rupiah permalam menjadi magnet kuat balap liar yang dikendalikan salah satunya adalah geng motor?
LOKASI FAVORIT
Kasus meninggalnya kelasi:Arifin (anggota Angkatan Laut) di Kemayoran, Jakarta, akhir Maret lalu yang ditengarai berbentuk penyerangan gerombolan motor cepak terhadap anak nongkrong di wilayah Jakarta Utara dan Pusat, sebenarnya hanya sebuah letupan. Pasalnya, fenomena gerombolan motor ini sudah lama berlangsung. Ngerinya, identik dengan kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa meninggal.
Data yang dihimpun Indonesia Police Watch (IPW), pada 2009 jumlah korban 69 jiwa, 2010 (62) dan 2011 (65). “Untuk bulan April saja, sudah 6 jiwa anak muda melayang sia-sia. Terakhir pada Sabtu (14/4) lalu di Bogor seorang pebalap liar meninggal dan ditinggalkan begitu saja,” ujar Neta S Pane, Ketua Presidium IPW.
Memprihatinkan lagi, akibat pembiaran yang dilakukan aparat, IPW mencatat perkembangan yang luar biasa lokasi balap liar yang dilakukan gerombolan bermotor. Tahun 2009 di wilayah Polda Metro Jaya, ada 20 lokasi balapan liar. Kini, 2012 ada 80 lokasi. Terbanyak di Tangerang dengan 21 lokasi.
Balapan liar yang mereka lakukan kerap mengancam keselamatan masyarakat pengguna lalu lintas. Apalagi mereka memiliki beberapa lokasi yang menantang dan favorit yakni kawasan Warung. Buncit dengan tikungan tajam, turunan, dan tanjakan. Rawa panjang, Bekasi dengan jalur lurus yang penuh truk dan container, Kemayoran yang jalurnya panjang dan rata, Klender dengan jalur sempit dan gelap, lalu Jalan Asia Afrika jalur pendek dan ada tikungan tajam di bundaran serta di Pondok Indah dengan istilah jalur bergengsi.
Karena itu, lanjut Neta, patrol pemberantasan geng motor dan balapan liar yang dilakukan polisi di Jakarta sekarang ini jangan hangat-hangat tai ayam alias hanya meredam buat sesaat. Pembiaran yang dilakukan polisi terhadap geng motor selama ini sudah membuat konflik sosial, memicu dendam dan aksi main hakim sendiri.
PERILAKU BURUK
IPW juga mendata ada tiga perilaku buruk geng motor mencakup balapan liar, judi (taruhan), dan tawaran (pengeroyokan), seperti yang dialami seorang anggota TNI AL di Kemayoran itu.
Menurut Denny Jonathan, dari Kodok Racing, yang mendapat laporan dari rekannya kalau keributan yang menewaskan kelasi Satu Arifin itu juga berawal dari balap liar. “Nah kubu yang kalah dibekingi aparat. Enggak tahunya yang dibekingi aparat tadi kalah jumlah massa dibandingkan yang menang, jadinya ribut,” terang pria yang lama tinggal di daerah Jakarta Pusat.
Pernyataan Denny cukup mengagetkan dan mengungkap fakta baru. Sebelumnya disebut penyebab kematian Arifin karena hal lain. Ini sekaligus memperkuat sinyalemen keterkaitan joki, bengkel, petaruh hingga beking yang biasanya dari aparat.
Daerah Jakarta Utara, Pusat dan Timur memang rawan dengan aksi brutal sekelompok massa yang menggunakan sepeda motor. “Kalau dulu memang geng motor di daerah Jakut dan Jakpus pergi 3 motor nanti pulangnya bisa bawa 4 atau 5 motor. Mereka membegal pengendara lain di jalan, enggak merusak atau bikin rusuh,” lanjut Denny.
Hal itu diamini Catur Wicaksono yang pernah jadi pembalap liar. “Sekarang ini balap liar yang “isian” gede pasti ada bekingannya. Entah aparat atau anggota dari angkatan. Justru mereka ini yang memulai kericuhan. Kalah satu ban malah kecot. Contohnya minta start ulang atau enggak mau ngaku kalah. Ujung-ujungnya pasti rusuh deh,” kata pria yang sekarang fokus dagang aksesoris motor matik.
Komjen Pol Nanan Sukarna, Wakapolri yang juga Ketua Umum PP IMI, melihat solidaritas kelompok kerap menjadi biang permasalahan yang berbuntut pada tindakan kriminal. “Sebetulnya klub dan komunitas motor bisa dirangkul untuk berbuat positif. Salah satunya sebagai penopang pilar pariwisata otomotif di Indonesia. Pengarahan dan sosialisasi dapat merangkul mereka untuk berbuat positif,” ujar Nanan.
Akibat kejadian yang juga berdampak pada stabilitas lalu lintas jalan, juga mendapat reaksi dari Irjen Pol Drs. Pudji Hartanto. “Untuk menjaga stabilitas lalu lintas, kami juga merangkul klub dan komunitas yang dapat dijadikan mitra lalu lintas. Kegiatan kemitraan ini telah berlangsung lama, dibawah koordinasi Dikmas Lantas,” ungkap Kakorlantas Polri itu.
Kita tunggu saja gebrakan nyata dari aparat.
GENG DAN BEKING APARAT
Aksi brutal apakah pelakunya benar-benar dilakukan geng motor? Untuk membuktikan ini, OTOMOTIF menghubungi salah satu mantan anggota Y-Gen yang dikabarkan sebagai dalang keributan.
“Saat ini, Y-Gen terpecah menjadi dua, yakni kubu Jl. Warakas dan Rawa Badak. Kegiatan rutin mereka City touring dan belakangan ada sebagian yang suka nonton balap liar. Nah, ketika kejadian yang menewaskan anggota TNI AL di Kemayoran, informasi yang ada di sana campuran berbagai anak motor. Mayoritas komunitas bengkel balap liar beserta rombongannya,” bilang Rahman, begitu ia minta disamarkan.
Aksi brutal ini bukan dari Y-Gen. “Anak Y-Gen tidak mungkin mempunyai postur tubuh kekar dan berambut cepak. Selain itu mereka tidak mungkin berani melakukan tindakan kriminal di tengah keramaian, seperti di Jl. Warakas I, Jl. Salemba dan Jl. Pramuka,” ujarnya.
Tindakan anarkis kelompok bermotor yang menggunakan pita kuning, ditengarai oknum aparat sebagai bentuk balas dendam. “Dari postur tubuh dan cara bertindak, sepertinya mereka sudah terlatih. Hal ini dibenarkan oleh sejumlah saksi dan korban di Jl. Warakas, yang mengatakan teriakan mereka juga cukup lantang,” beber Rahman yang tinggal di Warakas.
Dalam melakukan aksinya tergolong sporadic tak memandang siapa pun. “Bayangkan pedagang kaki lima hingga tukang ojek di seputar Jl. Warakas I dihajar tanpa ditanyai sebelumnya bahwa yang bersangkutan anggota geng motor atau bukan. Pokoknya siapa pun yang berada di jalan dihajar tanpa ampun,” ungkapnya.
Akibat isu geng motor ini berdampak pada imej negatif yang ditujukan pada klub atau komunitas motor. Mereka diklaim sebagai geng pembuat onar. “Ini merugikan, mengingat banyak klub dan komunitas yang positif,” tegas Rian Leleng, Ketua Road Eagle MC yang bermarkas di Manggarai.
source : otomotif 19-25 April 2012



































